Buku Iqra’ karya K.H. As’ad Humam (Mungkin akan Menjadi) Buku Laris Sepanjang Masa


Mempelajari ilmu agama Islam tidak dapat meninggalkan fungsi Alquran sebagai sumber hukum yang pertama di samping hadis. Tentu saja penguasaan bahasa Alquran sangat diperlukan agar dapat dengan lancar membaca dan memahami isinya.

Buku Iqra’, Cara Cepat Belajar Membaca Alquran karya K.H. As’ad Humam (pengasuh Tim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushola Kota Gede Yogyakarta) sangat membantu para pemula untuk belajar membaca Alquran.

Buku yang disusun melalui proses pengalaman Kiai As’ad sepanjang 20 tahun sebagai pengajar baca Alquran dengan berbagai metode ini, terdiri atas 6 jilid dengan tebal rata-rata 32 halaman. Setiap jilid dilengkapi petunjuk mengajar dengan pendekatan Cara Belajar Santri Aktif (CBSA).

Buku panduan baca Alquran itu telah diuji coba berbagai kalangan dengan hasil sangat baik. Sampai saat ini, lembaga PAUD Islam, TK Islam, Taman Alquran, santri masjid/musola mana yang melewatkan buku panduan itu.  Tim Tadarus Angkatan Muda dan Musola di berbagai penjuru kota/desa di Indonesia menolong anak didiknya agar tidak buta baca Alquran dengan Metode Iqra’ tersebut.

Hal yang menarik dari buku Iqra’ tersebut ialah penggunaan pendekatan CBSA. Guru hanya bertindak sebagai penyimak, pantang menuntun kecuali memberi para siswa contoh pokok pelajaran. Tiap santri bertindak sebagai pemandu untuk santri lainnya dengan tugas melakukan penyimakan orang per orang. 

Untuk itu dibutuhkan waktu sekira 20 menit dalam dua tahap penyimakan yang diseling dengan penyimakan santri lain. Inilah yang dikenal dalam dunia pendidikan modern sebagai masyarakat belajar. Buku Iqra’ memberikan sistem praktis mengenal huruf Alquran, perangkaian beberapa huruf (awal-tengah-akhir), dan berlanjut menjadi suatu kata/kalimat yang bermakna. Penggunaan buku Iqra’ untuk belajar membaca Alquran memberi siswa banyak kemudahan sehingga diharapkan dalam waktu relatif singkat penggunanya dapat fasih membaca kitab suci Quran.

Jika buku tersebut digunakan dalam sistem klasikal (kelompok), guru pun hanya dituntut menerangkan pokok-pokok pelajaran secara bersama. Antarsantri harus menjalin hubungan kerja sama, saling ajar. Dalam penyimakan, seperti tercantum dalam Petunjuk Mengajar, jika santri salah baca, tidak langsung disalahkan, tetapi dibetulkan pada huruf-huruf yang keliru saja. Cara mengingatkan cukup dengan dengan isyarat, seperti kata ”setop” atau  ”awas”. Menunjukkan bacaan yang benar, baru dilakukan sesudah ada peringatan bertahap terhadap kesalahan yang dibuat.

Kandungan buku Iqra’ masing-masing jilid adalah abjad Arab satu per satu dan jabaran fathah dua tiga huruf pada jilid I. Jilid II berisi seputar kombinasi dua tiga huruf dihubungkan dengan alif pada akhir yang dibaca panjang masih dengan jabaran fathah. Kemudian, jilid II dan IV mulai dikenalkan dengan jabaran kasrah dan doman serta tanwin, hanya belum ada tanda waqof (berhenti). Jilid V dimulai dengan alif yang dianggap tidak ada (walhamdu, lakalhamdu), meliputi seluruh abjad. Pada pertengahan pelajaran sudah mulai ada bacaan (hlm. 23) Surah Al-Mu’munun ayat 1—11. Baru pada jilid VI dimulai pelajaran bertadarus dengan perlahan dan tetap konsisten memakai pendekatan CBSA.

Santri yang telah menamatkan jilid VI—yang ini memang tidak lazim—santri dapat langsung tadarus mulai Juz 1, bukan Juz ’Amma (ke-30). Alasannya, antara lain, tadarus menurut sunnah dimulai dari Juz 1, lafal-lafal dalam Juz ’Amma  tidak/kurang diperhatikan lantaran surah-surahnya pendek dan kebanyakan orang sudah hapal.

Buku Iqra’ menjadi semakin menarik karena dilengkapi ilustrasi berupa lagu-lagu yang disisipkan di antara keenam jilidnya. Misalnya pada jilid I, sampul belakangnya memuat lagu ”Belajar Membaca” dengan notasi sederhana dan liriknya diawali dengan pengenalan abjad Arab. Ada juga lagu ”Rukun Islam yang Lima” yang dinyanyikan dengan notasi lagu ”Balonku” serta lagu-lagu lainnya.

Pasangan buku Iqra’ adalah buku kecil Cara Cepat Belajar Tajwid Praktis yang juga disusun oleh penulis yang sama. Buku ini bermanfaat untuk mereka yang telah menamatkan buku Iqro’ demi tartil-nya membaca Alquran. Buku Iqra’ sangat dianjurkan untuk para pemula yang sedang mempelajari Alquran, baik siswa PAUD/TK sederajat maupun remaja/dewasa yang belum lancar membaca Alquran.Walaupun belum ada data yang serius mengenai tiras buku Iqra’ itu, penulis yakin buku ini sangat laris dan masih terus digunakan sampai kapan pun. Para dermawan sering menyedekahkan buku  tersebut dalam jumlah besar untuk kepentingan pengajaran di masjid dan musola.

Perusahaan besar pun sering memasukkan buku Iqra’ ini dalam program CSR-nya. Begitu pula para mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan pengabdian di desa-desa, sering bersedekah dengan membeli buku Iqra’ untuk anak-anak di desa tempat mereka mempraktikkan ilmunya.. Entah pula, adakah kaum pembajak buku yang melihat ”peluang” larisnya penjualan  buku itu dengan cara menggandakan secara ilegal buku Iqra’ demi kepentingan pribadinya?

Siapakah K.H. As’ad Humam?

Dalam situs http://ensiklopediaindonesia.com, diulas profil sang kiai. Kita yakin bahwa penduduk Indonesia yang pernah menjadi seorang Muslim, apalagi masih Muslim sejak lahir hingga sekarang, mengenal buku Iqra’. Akan tetapi, siapakah tokoh bernama K.H. As’ad Humam, penemu metode Iqra’ itu? Melalui metode Iqra’ itulah, kita belajar membaca tulisan Arab dan Alquran hingga akhirnya bisa membacanya (dan syukur-syukur mampu mengamalkannya)  sampai sekarang.

Kita juga yakin Anda juga bisa membaca Alquran seperti sekarang ini, menggunakan media belajar buku Iqra’. Sungguh betapa besar amal jariyah K.H. As’ad Humam (melalui buku metode penemuannya) sebab jutaan umat di Indonesia akhirnya dapat dientaskan kebutahurufannya dalam membaca Quran. Secara tidak langsung, Kiai As’ad memiliki murid jutaan, baik di Indonesia maupun di  Asia (terutama di Malaysia dan Singapura).

K.H. As’ad Humam lahir pada 1933. Sejak remaja, ia mengalami cacat fisik. Sang Kiai hanyalah manusia biasa, bukan akademisi atau kalangan cerdik pandai lulusan universitas Islam. Pendidikan beliau sampai kelas 2 Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta (setaraf SMP).

Kiai As’ad bersama kawan-kawannya yang tergabung dalam Tim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushala Yogyakarta, mencari bentuk baru untuk sistem pengelolaan pengajian anak-anak dan metode pembelajaran membaca Alquran. Pada saat itu, metode baca Alquran Quran, selain metode Iqra’ juga sudah dikenal metode Juz ’Amma, metode Al-Banjary, metode Al-Barqy, dan  metode lainnya. Banyak penelaah  mencoba mengadakan pengujian terhadap keakuratan metode Iqro’ ini. Hasilnya, efektivitas metode Iqra’dalam pembelajaran membaca Alquran untuk anak usia TK (4 – 6 tahun) dalam waktu 6–18 bulan sudah mencapai angka 89,9% yang bisa diantarkan memiliki kemampuan membaca Alquran. Untuk  anak usia SD (mayoritas usia 7 – 9 tahun) ternyata lebih cepat lagi. Dalam waktu 12 bulan, mayoritas dari mereka (84,31%) telah lancar membaca Quran. Waktu yang relatif cepat apabila dibandingkan dengan metode (kaidah) Baghdadiyah melalui sistem pengajian ’tradisional’ yang memerlukan waktu 2 – 5 tahun.

Atas dasar itu, pada 21 Rajab 1408 H, bertepatan dengan 16 Maret 1988, didirikanlah Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA) AMM Yogyakarta. Setahun kemudian, tepatnya 16 Ramadan 1409 H (23 April 1989) didirikan pula Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) AMM Yogyakarta. Antara TKA dan TPA tidaklah memiliki perbedaan dalam sistem, keduanya hanya berbeda dalam hal usia anak didiknya. TKA untuk anak usia TKA (4—6 tahun), sedangkan TPA untuk anak usia SD (7—12 tahun).

Pada awal berdirinya (1988), TKA-TPA AMM itu belum memiliki gedung sendiri. Mula-mula hanya menempati beberapa ruang (salah satunya adalah ruang garasi) rumah milik pribadi Kiai As’ad. Baru kemudian pada 1991, Kiai As’ad membangun sebuah gedung yang memiliki 15 ruang, 4 ruang di antaranya berada di lantai 2. Sebanyak 11 ruang untuk kegiatan belajar (ruang kelas), 2 ruang untuk kantor, 1 ruang untuk sekretariat Tim Tadarus AMM, dan 1 ruang untuk tamu. Di sebelah kiri ruang-ruang kelas terdapat kamar kecil dan halaman samping, sedangkan di depan gedung terdapat halaman yang cukup luas untuk bermain dan upacara. Atas kerja keras Kiai As’ad ini, pada 1991 Munawir Sjadzali (Menteri Agama RI waktu itu) menjadikan TKA /TPA rintisan  Kiai As’ad sebagai Balai Litbang LPTQ Nasional.

K.H. As’ad Humam menghembuskan napas terakhirnya sekitar pukul 11: 30. Beliau wafat tepat di  Ramadan, hari Jum’at awal Februari 1996 dalam usia 63 tahun. Jenazah beliau disalatkan di Masjid Baiturahman Selokraman Kota Gede Yogya tempat ia mengabdi. Beliau sangat pantas disebut ”Pahlawan Pemberantas Buta Huruf Alquran”. Kita berharap sang kiai memperoleh kebaikan dan keberkahan atas ilmu yang diajarkannya melalui buku Iqra’.Memang benar sabda Rasulullah saw. bahwa ilmu yang bermanfaat akan menjadi bekal untuk si pengamal ilmu sehingga ilmunya itu  memperoleh kebaikan yang terus menerus seperti air yang mengalir tiada pernah kerontang.